Skip to content


Sampah itu…..

Sampah sudah menjadi bagian dari hidup kita, baik kita mau atau tidak menerimanya. Gak usah jauh-jauh sebagai contoh pembuat sekaligus orang yang merasakan dampak sampah adalah diri kita sendiri.

Diri ini bangun tidur jam 4 pagi, langsung minum satu gelas plastik air mineral, yang berarti satu sampah telah terjadi. Setelah nyawa bener-bener terkumpul, langsung ke kamar mandi. Setidaknya, sudah sepuluh liter air yang tercemar limbah sabun.
Jam  6 pagi sarapan nasi kotak, yang berarti satu kotak nasi, dua potong kertas wrap/bungkus nasi, satu gelas plasik air mineral serta sedotanya dan beberapa potong kantong plastik harus masuk ke tempat sampah.

Begitu banyak sampah yang telah terbuat walau hanya dari jam 4 sampai jam 6 pagi. Yang berarti itu baru dua jam, belum satu hari, satu minggu, satu bulan dan bahkan satau tahun. Berapa jumlah sampah yang tercipta dikali jumlah penduduk Indonesia.

Pernah membaca sebuah blog, yang aku lupa nama dan alamatnya, bahwa sejak kecil kita didoktrin untuk membuang sampah pada “tempatnya”. Dan doktrin itu begitu menancap, hingga bila hari ini membuat sampah, maka akan langsung dibuang ke “tempatnya” dan menganggap habis masalah.
Begitu seterusnya, hingga “tempat” sampah itu “meluas” dan menjadi masalah, terutama di kota besar.

Lain halnya dengan di pedesaan atauu di daerah yang masih terpencil. Akibat dari doktrin tersebut tidak berdampak langsung karena “tempat sampah” yang tersedia masih cukup banyak. Tapi yang jadi masalah adalah dampak turunan yang ditimbulkanya begitu panjang, mulai banjir di musim hujan, tanah yang tak lagi subur, tanaman yang rusak juga kekeringan di musim kemarau.

Training “management sampah” harus diberikan dan disosialisasikan pada masyarakat -dan juga instansi pemerintah maupun swasta- agar tahu manfaat dari sampah, selain mengotori dan membuat bau yang tidak enak serta petaka.

sampah plastik misalnya, bila kita mau melakukan daur ulang terhadapnya, bisa menjadi barang kerajinan yang mempunyai nilai jual, atau menjadi barang berguna lain.
Sedangkan untuk sampah organik, semisal sisa makanan, daun bekas potongan taman dan yang sebaginya itu bisa diolah menjadi kompos yang tidak hanya memberi makanan bagi tumbuhan tapi juga tidak merusak dan meracuni tanah seperti pupuk kimia olahan pabrik yang sekarang banyak beredar di masyarakat.

Andai saja kita tahu dan andai kita mau….., tapi lebih baik kita memang gak usah berandai-andai, tapi langsung berbuat dan mencoba untuk kebaikan kita semua dan bumi yang sudah tua ini.

Contoh kerajinan dari sampah

kerajinan dari sampahtas plastik dari sampah

Share

Baca juga yang ini

Posted in Sok menasehati.

Tagged with , , , .


31 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. iwan says

    mari kita daur ulang sampah menjadi barang kerajinan yg menarik. mendukung go green:)

  2. Dawam Multazam says

    dari tanah kembali ke tanah
    begitu juga sampah

    semua berputar seperti bumi yang tiada “batas”

    ~jadi, sampeyan iki melintas batas sing endi kang? hehehe.

1 2 3 4



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.



Switch to our mobile site