Setelah bertahun-tahun lamanya ku gak bercengkrama mesra dengan buku, beberapa hari ini aku bisa kembali merasakan nikmatnya membaca.
Ya, sebuah novel tua karya Gola Gong. Tapi seni dan keindahan itu tak lekang oleh waktu bukan?
Pada novel yang ntah diterbitkan pertama kali pada tahun berapa yang aku gak tau pasti,-yang pasti pemilik lama membubuhkan tahun 2004 pada buku tersebut-, aku menemukan sebuah keasikan tersendiri. Ada sedikit kerinduan yang terobati disana. Kerinduan akan bahan bacaan dan hiburan yang mendidik, bukan sinetron-sinetron kita yang selalu memperebutkan harta dan cinta yang ceritanya hampir semua sama atau seperti vidio amatir yang banyak beredar itu.
Ya, ya, ya untuk membaca sekarang ini memang gak melulu harus melalui sebuah media buku yang nyata, yang terbuat dari lembaran kertas. Banyak ebook yang bisa diunduh, baik secara gratis maupun berbayar, atau situs-situs yang menyediakan bahan bacaan. Sebut saja onyel, dengan kumpulan kisahnya yang menyajikan cerita ringan.
Tapi tetap saja perasaan ini ada saja hal yang kurang dibanding dengan membaca sebuah “buku”.
Dalam novel “Dua Kisah“, sumpah, ada dua kisah yang berbeda dalam buku tersebut, ada beberapa petikan kalimat yang aku sukai. Terutama pada cerita kedua “Senja di Selat Sunda“.
Sebuah cerita tentang perjalanan reuni sekelompok pecinta alam untuk menembus keterisoliran suku Badui Dalam. Diselingi konflik cinta masa lalu serta kengerian ketika berhadapan dengan gerombolan perampok yang melarikan diri ke dalam hutan,-atau sebaliknya, kisah konflik cinta masa lalu yang diselingi cerita petualangan alam?-.
Aku senang aja membaca kisahnya, karena memang pada dasarnya aku juga orang yang senang melakukan jelajah alam. Tapi dibalik itu, inilah beberapa petikan kalimat yang aku sukai dari novel kedua itu
Pada cerita ke dua, halaman 163 paragraf 2 “Harta yang melimpah bukan jaminan kebahagiaan seseorang“
Halaman 180 paragraf 1 “Uang bukan segala-galanya, tapi kedamaianlah yang dicari“
Halaman 225 paragraf 5 “Rasanya tidak komplet menjadi seorang wanita kalau tidak tahu masalah dapur“
Sementara untuk cerita pertama lebih banyak diisi dengan cerita kelam, walau pada akhirnya ada juga cerita bahagia, walau sebagian masih merasakan kelamnya kehidupan.
iya.. membaca buku yang benar benar buku memang tidak bisa tergantikan “rasa”nya”
sorry…dopost :malu:
oo, kamu ketahuan….
Iya, membaca sebuah buku yang bener bener buku memang tidak bisa tergantikan “rasa”nya..
“Rasanya tidak komplet menjadi seorang wanita kalau tidak tahu masalah dapur“ ngena banget tuh